Yayasan Pemimpin Muda

Yayasan Pemimpin Muda

Ahad, 7 November 2010

Kisah Kepemimpinan Abu Bakar As-sidiq

Suatu hari, Khalifah Abu Bakar hendak berangkat berdagang. Di tengah jalan, ia bertemu dengan Umar bin Khathab. “Mau berangkat ke mana engkau, wahai Abu Bakar?” tanya Umar. “Seperti biasa, aku mau berdagang ke pasar,” jawab sang khalifah.
Umar terkejut mendengar jawapan itu, lalu berkata, “Engkau sekarang sudah menjadi khalifah, karena itu berhentilah berdagang dan konsentrasilah mengurus kekhalifahan.” Abu Bakar lalu bertanya, “Jika tak berdagang, bagaimana aku harus menafkahi anak dan istriku?” Lalu Umar mengajak Abu Bakar untuk menemui Abu Ubaidah. Kemudian, ditetapkanlah oleh Abu Ubaidah gaji untuk khalifah Abu Bakar yang diambil dari baitul mal.

Pada suatu hari, istri Abu Bakar meminta wang untuk membeli manisan. “Wahai isteriku, aku tak punya wang,” kata Abu Bakar. Isterinya lalu mengusulkan untuk menyisihkan wang gaji dari baitul mal untuk membeli manisan. Abu Bakar pun menyetujuinya.
Setelah beberapa lama, wang untuk membeli manisan pun terkumpul. “Wahai Abu Bakar belikan manisan dan ini wangnya,” ungkap sang isteri memohon. Betapa terkejutnya Abu Bakar melihat wang yang disisihkan isterinya untuk membeli manisan. “Wahai isteriku, wang ini ternyata cukup banyak. Aku akan serahkan wang ini ke baitul mal, dan mulai besok kita usulkan agar gaji khalifah supaya dikurangi sebesar jumlah uang manisan yang dikumpulkan setiap hari, karena kita telah menerima gaji melebihi kecukupan sehari-hari,” tutur Abu Bakar.

Sebelum wafat, Abu Bakar berwasiat kepada putrinya Aisyah. “Kembalikanlah barang-barang keperluanku yang telah diterima dari baitul mal kepada khalifah penggantiku. Sebenarnya aku tidak mau menerima gaji dari baitul mal, tetapi karena Umar memaksa aku supaya berhenti berdagang dan berkonsentrasi mengurus kekhalifahan,” ujarnya berwasiat.
Abu Bakar juga meminta agar kebun yang dimilikinya diserahkan kepada Khalifah penggantinya. “Itu sebagai pengganti uang yang telah aku terima dari baitul mal,”kata Abu Bakar. Setelah ayahnya wafat, Aisyah menyuruh orang untuk menyampaikan wasiat ayahnya kepada Umar. Umar pun berkata, “Semoga Allah SWT merahmati ayahmu.”
Kisah yang tertulis kitab fadhailul ‘amal itu sarat akan makna dan esan. Di bulan Ramadhan ini, kita dapat mengambil pelajaran dari sikap dan keteladanan Abu Bakar yang tidak rakus terhadap harta kekayaan. Meski ia adalah seorang khalifah, namun tetap memilih hidup sederhana demi menjaga amanah.
Inilah sikap keteladanan dari seorang pemimpin sejati yang perlu ditiru oleh para pemimpin bangsa kita. Perilaku pemimpin, memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan masyarakat. Lebih-lebih lagi, rakyat Malaysia memiliki karakteristik masyarakat yang materialistik yang  berorientasikan kemewahan hidup.
Apa yang dilakukan pemimpin akan ditiru oleh rakyatnya, baik perilaku yang baik maupun yang buruk. Dengan spirit Hari Raya Korban yg akan menjelang tidak lama lagi , maka hendaknya para pemimpin dari Barisan Nasional mahupun Pakatan Rakyat harus memberi teladan yg baik untuk hidup secara wajar agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Wallahu ‘alam.

Tiada ulasan: